MELIRIK MIGAS NON KONVENSIONAL

Melirik Migas Non Konvensional

Created at: 2019-03-12T07:42:02.570Z

Kebutuhan energi di masa depan diperkirakan terus bertambah seiring pertambahan populasi manusia. Dari berbagai jenis sumber energi, baik yang terbarukan maupun tidak terbarukan, penggunaan fosil atau hidrokarbon seperti batubara, minyak dan gas bumi (migas) sebagai sumber energi diperkirakan masih mendominasi hingga 2060.

Melihat tren yang berkembang, Indonesia pun harus memikirkan cara agar kebutuhan energi dalam dilakukan tanpa harus impor dari negara lain. Untuk diketahui, Indonesia telah mengimpor emas hitam sejak 2002 karena produksi minyak nasional terus turun sehingga produksi yang ada tidak mampu memenuhi kebutuhan domestik. Begitu pula dengan gas bumi. Diperkirakan, Indonesia akan mengalami defisit gas bumi pada 2020.

Oleh karena itu, salah satu potensi sumber energi fosil yang bisa dioptimalkan saat ini ialah cadangan migas non-konvensional. Menurut Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (Permen ESDM) No. 05/2012, migas non-konvensional merupakan minyak dan gas bumi yang berasal dari reservoir tempat terbentuknya minyak dan gas bumi dengan permeabilitas yang rendah (low permeability), dengan beberapa jenis seperti shale oil, shale gas, tight sand gas, gas metana batubara (coal bed methane), dan methane-hydrate.

Hidrokabon jenis ini terbentuk dan tersimpan di dalam batuan sumber atau batuan induk (source rock) yang tidak mengalami perpindahan atau migrasi. Jadi, batuan induk bertindak sebagai batuan tempat terbentuknya hidrokarbon sekaligus menjadi batuan reservoir tempat tersimpannya hidrokarbon tersebut.

Potensi migas non-konvensional di Indonesia terbilang sangat menjanjikan karena jenis* shale hydrocarbon* (HC) dan gas metana batubara (GMB) masih banyak tersebar luas. Berdasarkan catatan Kementerian ESDM, cadangan shale gas yang terkandung di Indonesia mencapai 574,07 triliun kaki kubik (TCF), dan potensi cadangan gas metana batubara mencapai 453 TCF. Hingga saat ini, potensi *shale gas *diperkirakan banyak berada di Pulau Sumatera, Jawa, Kalimantan, dan Papua. Sedangkan gas metana batubara diduga berada ditemukan di wilayah Provinsi Sumatera Selatan dan Kalimantan Timur.

Prospek dan Tantangan

Dalam mengeksploitasi migas non-konvensional tentunya diperlukan metode dan teknologi tersendiri. Metode yang digunakan berbeda dengan proses eksploitasi migas konvensional lainnya. Untuk shale hydrocarbon, diperlukan metode perekahan lapisan batuan (fracturing) untuk memperbesar batuan agar cadangan mengalir keluar dan pada akhirnya dapat diangkat dari perut bumi. Sedangkan untuk gas metana batubara, diperlukan metode fracturing untuk proses dewatering agar gas dapat terdesorbsi dan terambil.

Amerika Serikat merupakan salah satu negara yang berhasil mengembangkan migas non-konvensional. Sejak 2006, negeri Paman Sam ini sukses mendongkrak produksi shale gas sehingga berhasil menekan harga gas bumi secara drastis. Sedangkan untuk minyak non konvensional, negara ini juga mendapatkan tambahan pasokan yang berasal dari shale oil. Begitu juga dengan Kanada. Negara ini memperoleh tambahan produksi minyak dari oil sand/tar sand. Keberhasilan ini membuat Amerika Serikat dan Kanada menyandang predikat sebagai 5 terbesar negara produsen minyak dunia.

Adapun Indonesia sebetulnya telah mengembangkan migas non-konvensional sejak 2008, yaitu saat ditandatanganinya kontrak kerja sama untuk tujuh wilayah kerja gas metana batubara. Puncak pengembangan migas non-konvensional di Indonesia terjadi 2012 saat penandatanganan 22 wilayah kerja di Provinsi Sumatera Selatan dan 32 wilayah kerja di Provinsi Kalimantan Timur. Sementara untuk shale gas telah dimulai sejak 2013 saat ini ditandatanganinya enam wilayah kerja.

Meski demikian, ternyata pengembangan migas non-konvensional belum menunjukkan perkembangan yang berarti. Padahal Pemerintah melalui Kementerian ESDM telah menerbitkan Permen ESDM No. 38 Tahun 2015 tentang Percepatan Pengusahaan Migas Non-Konvensional. Kendala utamanya ternyata terletak pada tingginya biaya operasinal yang diperlukan karena jumlah sumur yang diperlukan sangat banyak. Begitu juga dengan tantangan teknologi yang diperlukan.

Jika pada migas konvensional, eksplorasi menjadi kunci utama keberhasilan pengembangan sebuah lapangan maka hal itu akan berbeda dengan pengembangan migas non-konvensional. Pada migas non-konvensional, kondisi sumber daya alam relatif sudah teridentifikasi. Hanya saja yang menjadi isu utama adalah tingkat keekonomian suatu lapangan saat diproduksi.

Untuk itu, keterlibatan Pemerintah dalam hal pengembangan migas non-konvensional menjadi hal yang sangat penting. Proses pengadaan lahan yang relatif cepat menjadi salah satu faktor yang mendukung percepatan pengembangan migas non-konvensional ini. Begitu pula dengan adanya regulasi khusus terkait pemboran migas non-konvensional yang berbeda dengan migas konvensional. Hal tersebut akan mendorong pengembangan migas non-konvensional. Pada akhirnya, jika dukungan Pemerintah pada upaya-upaya pengembangan migas non-konvensional dapat dilaksanakan secara tepat dan cepat maka industri migas nasional pun akan tumbuh dan kekhawatiran terjadinya defisit energi di masa mendatang pun dapat teratasi. (*)

Sumber:

  • Artikel SKK Migas “Mengembangkan Migas Nonkonvensional” (10/4/2014).

  • Artikel Ikatan Ahli Teknik Perminyakan Indonesia “Mengenal Migas Nonkonvensional Sumber Energi Masa Depan di iatmismstem.or.id (19/5/2017).

  • Artikel “Segera Diselenggarakan, Sarasehan Migas nonkonvensional”di esdm.go.id (16/11/2016).

  • Artikel E-Magazine BUMI SKK Migas “Pengembangan MNK Adalah Keniscayaan Untuk Masa Depan” (10/2018)