MENJAGA MOMENTUM PERBAIKAN INDUSTRI HULU MIGAS

Menjaga Momentum Perbaikan Industri Hulu Migas

Created at: 2019-02-28T09:44:39.682Z

Tahun 2018 telah berlalu. Secara umum, industri minyak dan gas bumi (migas) nasional menorehkan capaian yang positif pada tahun tersebut. Hal itu setidaknya terlihat dari nilai investasi yang mengalami kenaikan dibandingkan tahun sebelumnya. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat realisasi investasi migas mencapai USD 12,7 miliar, atau tumbuh sekitar 15,5 persen dibandingkan 2017 yang hanya sebesar USD 11 miliar.

Jika melihat kurun waktu lima tahun terakhir, kenaikan ini merupakan yang pertama kalinya. Sejak 2013, investasi migas tercatat terus merosot dari USD 22,4 miliar menjadi USD 21,7 pada 2014. Penurunan pun berlanjut menjadi USD 18 miliar pada 2015, lalu menjadi USD 12,7 miliar pada 2016, dan mencapai titik terendahnya sebesar USD 11 miliar pada 2017.

Tren perbaikan investasi sebenarnya berbanding lurus dengan hasil lelang wilayah kerja (WK) migas di Indonesia. Pada 2018, ada sembilan WK migas yang laku. Angka itu naik bila dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang hanya mencapai lima WK migas. Capaian tersebut tentunya tidak lepas dari banyaknya WK migas yang ditawarkan Pemerintah. Tercatat ada 33 WK migas yang dilelang selama 2018. Jumlah tersebut tiga kali lipat daripada lelang yang ditawarkan tahun sebelumnya.

Presiden Indonesian Petroleum Association (IPA) saat acara Annual General Meeting Tahun 2018, Ronald Gunawan, mengapresiasi upaya yang telah dilakukan pemerintah. Menurut dia, dalam dua tahun terakhir ini Pemerintah Indonesia telah gencar menawarkan WK baru kepada para calon investor. Namun, Ronald menyebutkan masih diperlukannya berbagai perbaikan untuk membuat industri migas nasional menjadi lebih atraktif lagi.

Perbaikan terus dilakukan mengingat harga minyak dunia yang masih berfluktuasi. Dalam tiga tahun terakhir ini, harga minyak dunia mulai merangkak naik setelah sempat terjun bebas pada 2014. Fluktuasi harga sangat bergantung pada situasi global, mulai dari faktor stok minyak dunia hingga kondisi perekonomian yang ada.

Januari 2018, U.S. Energy Information Administration (EIA) mencatat rata-rata harga minyak mentah jenis Brent sebesar USD 67 per barel. Nilai itu naik hingga menorehkan capaian tertinggi sebesar USD 86 per barel pada Oktober. Namun, di akhir tahun nilai itu terjun menjadi hanya USD 54 per barel. Ada beberapa hal yang mempengaruhi penurunan yang terbilang cepat, salah satunya penerapan sanksi oleh Amerika Serikat terhadap Iran pada November 2018. Sanksi itu membuat ketersediaan minyak mentah di pasar global menjadi lebih banyak dari perkiraan pelaku pasar.

Upaya Perbaikan

Kondisi harga minyak yang masih berfluktuasi ini tentunya patut diwaspadai. Pada kondisi ini para investor akan semakin selektif menentukan investasinya. Mereka hanya akan berinvestasi di negara yang dinilai menarik atau atraktif. Global Petroleum Survey 2018 menempatkan Indonesia di posisi 71 dari 80 wilayah yang disurvei. Posisi Indonesia ini sebenarnya meningkat daripada tahun sebelumnya yang menempati peringkat 92 dari 97 negara.

Menurut lembaga penelitian tersebut, Indonesia mempunyai berbagai pekerjaan rumah yang harus diselesaikan untuk memperbaiki iklim investasi migasnya. Singkatnya, persepsi investor migas global terhadap Indonesia masih kurang baik.

Masih menurut survei tersebut, salah satu penyebab Indonesia tidak menarik di mata investor adalah karena adanya ketidakpastian atas regulasi yang berlaku. Regulasi terkait industri migas dinilai masih rentan untuk berganti-ganti.

Kepala Biro Komunikasi dan Kerja Sama Kementerian ESDM, Agung Pribadi, memiliki pandangan yang berbeda dengan survei tersebut. Menurut dia, jumlah WK migas yang menggunakan skema Gross Split pada 2017 dan 2018 mencapai 36 WK, di mana 14 di antaranya merupakan hasil lelang.

Seyogyanya, apapun hasil survei yang ada harus menjadi masukan semua pemangku kepentingan di industri migas di Indonesia untuk terus melakukan perbaikan-perbaikan agar target investasi pada 2019 sebesar USD 14,8 miliar dapat direalisasikan. Dalam hal ini, penguatan kemitraan antara pemerintah dengan para pelaku industri melalui berbagai perbaikan kebijakan perlu terus dilakukan. (*)

Sumber:

  • Artikel “Redup Investasi Hulu Migas di Tahun Politik” di cnnindonesia.com (10/01/2019)
  • Artikel “Fraser Institute: Investasi Migas RI Terhambat Regulasi” do cnbcindonesia.com (10/01/2019)
  • Laporan mingguan “Crude oil prices end the year lower than they began in 2018” di eia.gov (16/01/2019).
  • Databoks “Berapa Realisasi Investasi Migas 2018?” di katadata.co.id (14/01/2019)