WASPADAI PENURUNAN JUMLAH PEKERJA MIGAS

Waspadai Penurunan Jumlah Pekerja Migas

Created at: 2019-04-05T07:44:47.486Z

Berdasarkan data Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas), total jumlah pekerja di sektor migas pada 2014 mencapai 33.432 orang. Angka itu turun menjadi 32.767 orang pada 2015, kemudian menjadi 30.531 orang pada 2016, dan menjadi 27.216 orang pada 2017. Tren penurunan berlanjut hingga semester pertama tahun 2018 jumlah pekerja migas menjadi 25.051 orang.

Jika dirinci, perbandingan jumlah tenaga kerja Indonesia (TKI) dan tenaga kerja asing (TKA) pada industri migas tahun 2014 mencapai 32.292 orang TKI dan 1.140 orang TKA. Sementara pada 2015, perbandingannya menjadi 31.745 orang TKI dan 1.022 orang TKA. Pada 2016, menjadi 29.863 orang TKI dan 668 orang TKA.

Selanjutnya, pada tahun 2017 perbandingan jumlah pekerja menjadi 26.811 orang TKI dan 405 orang TKA. Terakhir, pada Semester 1 Tahun 2018, perbandingan pekerja menjadi 24.739 orang TKI dan 312 orang TKA.

Kepala Divisi Program dan Komunikasi SKK Migas, Wisnu Prabawa Taher, mengatakan, penurunan jumlah TKI di industri hulu migas salah satunya diakibatkan karena penurunan harga minyak dunia yang terjadi sejak 2014. Kondisi tersebut mendorong para TKI yang sudah tergolong ahli dalam industri ini pun memilih bekerja di luar negeri, terutama di kawasan Timur Tengah.

Lesunya harga minyak dunia juga berdampak pada nilai investasi hulu migas yang mengalami tren penurunan sejak 2014. Kala itu, nilai investasi migas mencapai USD 21,7 miliar dan kemudian terus menurun menjadi hanya sebesar USD 17,9 miliar pada 2015, USD 12,7 miliar pada 2016, dan terakhir sebesar USD 11 miliar pada 2017.

Para investor yang tergabung dalam Indonesian Petroleum Association (IPA) menilai, berkurangnya nilai investasi di sektor hulu migas ini mau tidak mau mendorong pihak industri untuk melakukan efisiensi. Alhasil, sebagian besar perusahaan pun memilih mengurangi kegiatan operasi, baik eksplorasi maupun eksploitasi, sehingga akhirnya perekrutan tenaga kerja pun menjadi berkurang.

Berkurangnya lapangan kerja pada sektor hulu migas ini bisa berdampak cukup panjang, terutama dalam hal penyediaan tenaga ahli migas di masa mendatang. Banyaknya pekerja migas yang berpindah pekerjaan ke bidang yang lain dikhawatirkan akan mengurangi ketersediaan tenaga kerja yang berkualitas saat aktivitas industri ini kembali naik.

Tutuka Ariadji, Ketua Ikatan Ahli Teknik Perminyakan (IATMI), mengatakan, ketersediaan lapangan kerja yang minim di sektor migas telah berdampak terhadap masa tunggu lulusan sarjana teknik terkait dalam mendapatkan pekerjaan, seperti sarjana teknik perminyakan, teknik geofisika, teknik geologi, teknik pertambangan, dan lainnya.

Waktu tunggu seorang lulusan Sarjana untuk dapat bekerja sesuai bidang ilmunya saat ini semakin panjang mencapai 1-2 tahun. Adapun jumlah lulusan yang terkait dengan industri migas bisa mencapai 700-800 mahasiswa per tahunnya, dari 31 universitas yang membuka program studi ilmu-ilmu tersebut. Menurut dia, pada 2017 ada sekitar 30 persen lulusan program studi tersebut yang masih menunggu mendapatkan pekerjaan di industri migas.

Di lain pihak, Direktur Eksekutif Reforminer Institute, Komaidi Notonegoro, mengharapkan Pemerintah dapat melakukan beberapa hal yang secara tidak langsung dapat menekan laju penuruan tenaga kerja di industri migas, memberikan kemudahan perijinan usaha dan kepastian peraturan dalam investasi migas di Indonesia. Sudah menjadi pengetahuan bersama bahwa kemudahan berinvestasi dan adanya kepastian peraturan merupakan salah satu kunci untuk menarik investasi masuk sehingga pada akhirnya dapat kembali menyerap tenaga kerja yang banyak. (*)

Sumber:

  • Artikel “SKK Migas Jumlah Tenaga Kerja Asing di Sektor Migas RI Terus Turun” di viva.co.id, (9/11/2018).
  • Artikel “Jumlah Pekerja Hulu Migas Terus Berkurang Empat Tahun Terakhir” di katadata.co.id (9/11/2018).
  • Artikel “Jumlah Pekerja Migas Turun Pemerintah Didesak Buat Terobosan” di katadata.co.id (12/11/2018).
  • Artikel “Investasi Migas Turun Tenaga Kerja Merana” di migasreview.com (20/5/2017).