2018, Sepercik Asa Bagi Industri Migas Nasional

2018, Sepercik Asa Bagi Industri Migas Nasional
Kinerja sektor migas juga diyakini turut mendongkrak penerimaan negara.

Tahun 2018 telah berlalu. Pada tahun itu mulai terlihat sepercik asa bagi industri hulu minyak dan gas bumi (migas) di seluruh dunia. Berdasarkan data sejumlah negara anggota OPEC, harga minyak kian membaik dengan rata-rata USD 77 per barel. Harga tersebut meningkat dibandingkan periode 2015 di mana harga rata-rata minyak dunia sempat menyentuh angka USD 49,5 per barel, dari tahun sebelumnya yang masih berada pada angka USD 90 per barel.

Begitu juga di Indonesia. Kondisi industri migas nasional juga ditandai adanya upaya perbaikan yang dilakukan oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), salah satunya soal perijinan. Kementerian ESDM kembali menyederhanakan perijinan sub sektor migas dengan mencabut 11 Peraturan Menteri (Permen) ESDM, menggabung 7 Permen menjadi 6 Permen ESDM, dan mencabut 19 rekomendasi yang sebelumnya dimintakan dari ESDM.   

Kehadiran Presiden Joko Widodo pada acara pembukaan Pameran dan Konvensi IPA ke-42 di Jakarta, awal Mei 2018 juga seakan menunjukkan dukungannya bagi industri migas nasional. Itu kali pertama Presiden Joko Widodo hadir pada acara pertemuan seluruh pemangku kepentingan migas di Indonesia. Dalam sambutannya, Presiden meminta seluruh pelaku usaha untuk giat menemukan cadangan migas berskala raksasa (giant discovery). Presiden juga meminta masukan dari para pelaku industri jika masih ada hal yang dirasakan memberatkan dalam berinvestasi di Indonesia. “Tolong sampaikan ke menteri. Kalau menteri tak sanggup, sampaikan ke saya,” katanya.   

Selain soal kehadiran Presiden, upaya perbaikan juga ditunjukkan pada perubahan skema bagi hasil dari mekanisme cost recovery menjadi mekanisme gross split yang telah digulirkan sejak 2017. Hingga Juni 2018, Kementerian ESDM mencatat ada 25 wilayah kerja (WK) migas yang telah menggunakan skema gross split. Sebanyak 10 WK merupakan hasil lelang pada 2017 dan 2018, sedangkan sisanya merupakan kumpulan WK terminasi yang masa kontraknya berakhir antara 2017-2020. Terbaru, perusahaan minyak asal Italia, Eni Indonesia, khususnya WK East Sepinggan, juga telah mengubah skema PSC Cost Recovery menjadi PSC Gross Split.

Menutup tahun 2018, kinerja sektor migas juga diyakini turut mendongkrak penerimaan negara. Menurut data dari Kementerian Keuangan, penerimaan negara bukan pajak (PNBP) merupakan factor yang signifikan mendongkrak penerimaan negara, terutama didorong oleh kenaikan harga komoditas minyak dan batu bara. Untuk informasi, PNPB sumber daya alam dari minyak bumi ada sebesar Rp 138,2 triliun, atau 232 persen dari target yang ditetapkan, dan dari gas bumi sebesar Rp 5 triliun atau 24,3 persen.

Di sisi lain, para pelaku industri migas yang tergabung dalam Indonesian Petroleum Association (IPA) juga menyampaikan catatannya terkait upaya-upaya yang telah dilakukan Pemerintah bersama industri demi meningkatkan kembali industri migas nasional. Menurut catatan IPA, penerapan PSC Gross Split mulai dapat diterima pelaku industri migas dengan adanya sejumlah perbaikan yang sudah dan sedang dikerjakan bersama. “Kami move forward. Tidak ada masalah PSC cost recovery ataupun gross split," kata Ronald Gunawan, Presiden IPA Tahun 2018.

Ditambahkan Ronald, kondisi investasi di dalam negeri juga sudah mulai membaik. Hal tersebut terlihat dari periode dua tahun terakhir ini Pemerintah Indonesia sudah gencar menawarkan WK baru kepada para calon investor. Kondisi itu ditopang dengan adanya perbaikan regulasi terkait industri migas dan diterbitkannya aturan tentang joint audit untuk kegiatan migas, serta adanya aturan pengecualian letter of credit (L/C) pada ekspor migas.

Pekerjaan Rumah   

Meski kondisi industri migas mulai terlihat membaik, namun upaya pembenahan masih tetap harus digalakkan. Fluktuasi harga minyak dunia diproyeksikan masih tetap terjadi pada beberapa waktu ke depan. Kondisi ini jelas membuat para investor migas akan tetap selektif untuk menempatkan investasinya. Mereka hanya akan menaruh investasinya pada negara-negara yang memiliki iklim investasi yang baik dan menarik.

Soal lifting migas juga masih menyisakan pekerjaan rumah yang harus diselesaikan. Berdasarkan informasi dari Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas), Dwi Soetjipto, lifting minyak bumi berada pada kisaran 772 ribu barel per hari (BPH). Angka itu masih di bawah dari target yang dipatok pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara yaitu sebesar 800 ribu BPH. Seyogyanya, momentum kenaikan harga minyak dunia dapat dimanfaatkan secara optimal untuk dapat mendongkrak penerimaan negara.

Kolaborasi yang tepat antara Pemerintah dan Pelaku Industri diharapkan dapat membuat industri migas nasional menjadi lebih atraktif. Momentum perbaikan juga perlu memperhatikan situasi migas global secara tepat agar industri migas Indonesia pun dapat merasakan manfaat yang optimal. (*)   

Sumber: 

  • Artikel “Bangkitkan Optimisme, Jokowi Pertama Kali Buka Pertemuan Pelaku Migas” di katadata.co.id (2/5/2018).
  • Infografik “Change In Opec Crude Oil Prices Since 1960” di statista.com.
  • Infografik “Kontrak Migas Gross Split Sudah 25 Kontrak” di katadata.co.id (6/7/2018).
  • Artikel “Eni Sepakat Gunakan Skema Gross Split untuk Lapangan Marakesh” di cnnindonesia.com (5/12/2018).
  • Artikel “Ini Bukti Skema Gross Split Diminati Investor” di detik.com (1/8/2018).
  • Artikel “Berkat Uang Minyak Penerimaan Negara 2018 Capai 102,5 dari Target” di katadata.co.id (2/1/2019).