Pentingnya Kemitraan untuk Keberlanjutan Bisnis Hulu Migas

Pentingnya Kemitraan untuk Keberlanjutan Bisnis Hulu Migas
Strategi kemitraan menjadi kebutuhan tersendiri dalam menghadapi risiko bisnis yang relative besar.

Kemitraan dalam pengelolaan aset hulu minyak dan gas bumi (migas) menjadi praktik yang lazim dilakukan oleh para operator migas. Hal ini berangkat dari kesadaran bahwa usaha hulu migas memiliki karakter yang unik dan spesifik, yaitu berisiko tinggi (high risk), menggunakan teknologi tinggi (high technology), dan memerlukan modal kerja yang besar (high capital). Ditambah lagi, investasi migas memerlukan waktu yang sangat panjang hingga menghasilkan keuntungan (long-term investment).    

Tantangan bisnis energi seperti migas juga dipengaruhi oleh situasi eksternal, seperti geopolitik, kondisi bisnis, aspek lingkungan, dan pergerakan harga minyak dunia. Khusus harga minyak, dalam beberapa tahun terakhir ini cenderung sangat volatil.  Pada Juli 2014, harga minyak dunia masih berada di atas USD 100 per barel. Namun di akhir tahun merosot hingga di kisaran USD 60 per barel. Pergerakan harga semakin memburuk memasuki 2015 hingga sempat menyentuh kisaran USD 40 per barel. Kini, harga minyak mulai merangkak naik meski belum melewati angka USD 100 per barel.    

Melihat kondisi tersebut, strategi kemitraan (partnership) yang dilakukan oleh para operator dengan menggandeng perusahaan lain menjadi kebutuhan tersendiri. Diharapkan, risiko bisnis yang relatif besar yang harus ditanggung perusahaan migas dapat diminimalisir sehingga bisnis dapat terus berlanjut meski situasi yang dihadapi para operator sangat dinamis. 

Sebaran Kepemilikan Aset Pemain Migas Dunia

Sejumlah perusahaan migas dunia seperti ExxonMobil, Chevron, Total, dan INPEX mengelola risiko bisnis mereka melalui skema kemitraan. Hal ini diharapkan dapat membantu kinerja perusahaan, mulai dari mengurangi beban pada aset tertentu, mengendalikan beban investasi, hingga akses terhadap teknologi-teknologi baru yang diperlukan untuk mencari cadangan-cadangan migas baru.

Sebaran kepemilikan aset berdasarkan jumlah cadangan pada reservoir (reserve recoverable) dari empat pemain migas dunia di atas didominasi oleh aset yang dikelola bersama. Sebagai contoh, aset yang dimiliki ExxonMobil sebesar 53 persen di antaranya berstatus aset non-operator, 43 persen aset operator bersama mitra, dan hanya 4 persen aset yang dioperasikan sendiri.

Strategi yang sama juga diterapkan Total. Ada sebanyak 44 persen aset yang bersifat non-operator, 47 persen bersifat operator bersama mitra, dan sisanya sebanyak 9 persen dioperasikan sendiri.

Di Indonesia pun demikian. Badan Usaha Milik Negara yang bergerak di bidang migas, PT Pertamina (Persero), menyadari pentingnya upaya serupa untuk menjaga keberlanjutan bisnis migas mereka baik di dalam maupun di luar negeri.

Berdasarkan keterangan Vice President Corporate Business Strategic Planning PT Pertamina (Persero), Ernie D Ginting, saat ini Pertamina masih bertindak sebagai operator di sekitar 63 persen dari total ladang migas yang dikuasai. Dari jumlah tersebut, 10 persen di antaranya berstatus operator bersama dengan mitra, dan sisanya non-operator.

Bagi Pertamina, kemitraan merupakan salah satu strategi yang akan dilakukan untuk membagi risiko, modal, dan akses teknologi yang diperlukan perusahaan untuk melakukan usahanya. 

Manfaat Kemitraan Strategis Hulu Migas

Boston Consulting Group (BCG) mengidentifikasi sejumlah manfaat yang dihasilkan dari kemitraan antara operator dan mitranya dalam kegiatan usaha hulu migas, khususnya soal efisiensi dan efektifitas.

Kemitraan, baik dengan membentuk badan hukum baru (joint ventures) atau pun sekadar lewat kontrak bagi hasil, diyakini dapat memangkas biaya-biaya yang diperlukan. Sehingga produk yang dihasilkan pun dapat dijual dengan harga yang lebih kompetitif.

Manfaat berikutnya adalah peningkatan kapasitas. Kemitraan memungkinkan pihak yang terlibat berbagi akses terhadap sumber daya yang diperlukan, seperti manajemen, teknologi, dan pekerja.

Sejarah mencatat kesuksesan British Petroleum (BP) dalam mengembangkan proyek Andrew di Laut Utara pada 1996. Proyek ini dijalankan melalui kemitraan dengan tujuh kontraktor migas lainnya. Dalam proyek tersebut, BP sukses memangkas anggaran pengembangan proyek hingga 20 persen.

Bahkan proyek yang digarap bersama Brown & Root, Santa Fe, Saipem, Highlands Fabricators, Allseas, Emtunga, and Trafalgar House itu rampung enam bulan lebih cepat dari yang dijadwalkan.

Sumber:  

  • Artikel “Strategic Alliances in Upstream Oil and Gas” di BCG.com (27/04/2015)
  • Infografik “Musim PHK Pekerja Migas” di katadata.co.id (07/08/2015)
  • Artikel “Kemitraan Jadi Kebutuhan dan Lazim Bagi Perusahaan Migas” di dunia-energi.com (19/04/2018)
  • Artikel “Kemitraan Berkelanjutan Keseimbangan Baru Industri Migas” di esdm.go.id  (26/05/2018)
  • Artikel “Pertamina Prioritaskan Kerja Sama Kemitraan Dalam Pengelolaan Aset Migas” di kontan.co.id (19/04/2018)
  • Artikel “Elia Massa Manik dan Transformasi Mindset” di fakta.news (2/05/2018)
  • Artikel “Pertamina Perlu Dukungan Pemerintah Untuk Dorong Investasi” di cnbcindonesia.com (19/04/2018)