Berharap Migas Kembali Diminati

Berharap Migas Kembali Diminati
Perbaikan iklim investasi menjadi hal yang mendesak dilakukan agar investasi migas di Indonesia dipandang lebih berdaya saing daripada di negara-negara Lainnya.

Tahun 2018 ditutup dengan lakunya sembilan wilayah kerja (WK) minyak dan gas bumi (migas) yang ditawarkan oleh Pemerintah. Jumlah tersebut meningkat bila dibandingkan dengan tahun sebelumnya  yang hanya sebanyak lima WK migas. Pencapaian pada 2018 ini tentunya tidak lepas dari banyaknya blok migas yang ditawarkan Pemerintah kepada investor. Jumlahnya mencapai 33 WK migas dan  dilelang dalam tiga tahapan.

Adapun sembilan WK migas yang laku menerapkan skema bagi hasil Gross Split itu, di antaranya: Citarum (Konsorsium PT Cogen Nusantara Energi & PT Green World Nusantara), East Ganal (Eni  Indonesia Ltd), East Seram (Lion Energy Ltd), Southeast Jambi (Konsorsium Talisman West Bengara B.V - MOECOSouth Sumatra Co. Ltd), dan South Jambi B (Hong Kong Jindi Group Co. Ltd). Selain itu ada WK Banyumas (PT Minarak Brantas Gas), South Andaman (Pearloil (Theralite) Limited), South Sakakemang (Konsorsium Talisman Java BV & Mitsui Oil Exploration Co. Ltd), dan Maratua (PT Pertamina (Persero).

Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Arcandra Tahar, mencatat pada kurun waktu 2017-2018 ada sebanyak 36 WK migas yang sudah menggunakan skema bagi hasil Gross Split dengan  total capaian bonus tanda tangan (signature bonus) mencapai USD 895,4 juta atau setara Rp 13,4 triliun.  Menurut Arcandra, pencapaian 2018 ini merupakan yang paling baik selama lima tahun terakhir. Meskipun bila ditilik dari rasionya, perbandingan antara jumlah WK yang ditawarkan dengan yang laku hanya sebesar 27 persen.

Itu sebabnya, 2018 dapat dianggap sebagai tonggak kenaikan nilai investasi migas. Kementerian ESDM mencatat realisasi investasi mencapai USD 12,69 miliar. Terdiri dari investasi di sektor hulu sebesar USD 11,99 miliar dan sektor hilir sebesar USD 689,66 juta. Meski secara total hanya 73 persen dari target sebesar USD 16,8 miliar, namun capaian investasi tersebut dinilai meningkat bila dibandingkan 2017 yang hanya sebesar USD 11 miliar.

Jika dilihat dari sisi pelaku industri migas, harga minyak dunia yang mengalami tren kenaikan selama setahun terakhir tentunya menjadi salah satu penyebab kembalinya gairah perusahaan migas untuk  berinvestasi. Hanya saja, dapat dipahami jika para investor migas dunia akan tetap mempertimbangkan  secara selektif investasi di negara mana yang lebih menguntungkan. Oleh karena itu, perbaikan iklim investasi menjadi hal yang mendesak dilakukan agar investasi migas di Indonesia dipandang lebih berdaya saing daripada di negara-negara Lainnya.

Perbaikan

Pada Global Petroleum Survey tahun 2018 diketahui masih adanya sejumlah poin yang menjadi perhatian para pelaku bisnis migas untuk menanamkan investasinya, termasuk di Indonesia. Beberapa  hal yang diperhatikan investor di antaranya kepastian aturan dalam berinvestasi dan panjangnya birokrasi perizinan bagi investasi yang akan masuk. Program deregulasi yang dilakukan Pemerintah Indonesia dipandang masih belum optimal karena penyederhanaan perijinan masih hanya sebatas pada sisi administrasi dan belum secara menyeluruh pada setiap kementerian/Lembaga yang terkait serta melibatkan Pemerintah Daerah. Padahal, rumitnya pengurusan perijinan menjadi salah satu kendala tersendiri bagi jalannya upaya eksplorasi dan produksi.

Senada dengan laporan tersebut, PriceWaterhouseCoopers (PwC) pada 2016 juga pernah menyinggung  tentang ketidakpastian regulasi. PwC menggarisbawahi adanya ketidakkonsistenan kebijakan antara beberapa Kementerian/Lembaga serta tidak adanya badan tunggal yang dapat menyelesaikan sengketa yang terjadi antar instansi pemerintah, baik di tingkat pusat dan daerah.

“Percepatan penyelesaian revisi Undang-Undang Migas perlu diperhatikan semua pihak yang terkait. RUU ini sudah masuk dalam Program Legislasi Nasional sejak 2011. UU Migas yang baru nanti diharapkan akan memuat sistem kontrak, perpajakan, kelembagaan, dan perizinan yang ramah bagi para investor,” ujar Direktur Program Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Berly  Martawardaya. (*)

Sumber:

  • Artikel “Dari 34 Laku 6, Lelang Blok Migas RI di 2018 Terseok-seok” di cnbcindonesia.com (6/11/2018)
  • Artikel “Menakar Proyeksi Investasi Migas 2019” di reforminer (10/01/2019)
  • Artikel “5 Blok Migas Masuk Dalam Lelang Tahap I 2019” republika.co.id (19/01/2019)
  • Artikel “Mendung Investasi Migas” di tempo.co (14/01/2019)
  • Databoks “Berapa Realisasi Migas 2018” di katadata.co.id (14/01/2019)
  • Artikel Harga Minyak Merosot Target Investasi Migas RI Turun di 2019 di cnbcindonesia.com  (04/01/2019)