Dampak Berganda Industri Hulu Migas

Dampak Berganda Industri Hulu Migas
Kegiatan hulu migas yang terjaga berdampak positif bagi negara dan industri lainnya.

Dalam beberapa tahun terakhir defisit transaksi berjalan terhadap produk domestik bruto (PDB)  mengalami tren penurunan. Dari minus 3,09 persen pada 2014 menjadi minus 1,7 persen pada  2017. Namun, defisit kembali melebar dari minus 2,2 persen pada kuartal pertama 2018 dan terus meningkat menjadi minus 3,4 persen pada kuartal ketiga. Sejatinya, batas aman defisit  transaksi berjalan tidak lebih dari 3 persen.

Menurut sejumlah ekonom, defisit transaksi berjalan yang tinggi ini bisa membuat Indonesia rentan terhadap gejolak perekonomian global dan menghambat pergerakan rupiah serta  menurunkan kepercayaan investor untuk menanamkan modalnya di dalam negeri.

Minyak dan gas bumi menjadi salah satu faktor penyumbang defisit transaksi berjalan Indonesia. Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), neraca perdagangan migas berada pada angka  minus US$ 9.375,5 juta selama periode Januari hingga September 2018. Penyebabnya, impor minyak mentah maupun minyak olahan untuk memenuhi kebutuhan domestik jauh lebih besar  daripada jumlah produksi migas yang ada.

Hal ini patut diwaspadai. Pasalnya, produksi minyak yang terus menurun pada beberapa tahun  terakhir ini berbanding terbalik dengan tingkat konsumsi yang justru semakin meningkat. Jika  tidak diantisipasi maka impor minyak akan semakin besar. Alhasil, beban ekonomi akibat impor pun akan bertambah berat.

Untuk mengantisipasi hal tersebut maka keberlanjutan industri migas nasional perlu dijaga. Tingkat produksi migas perlu dinaikkan dengan melakukan eksplorasi ataupun optimalisasi  sumur migas yang telah berproduksi. Produksi migas yang dapat memenuhi tingkat konsumsi  merupakan bentuk ketahanan energi dan sekaligus mengurangi ketergantungan impor minyak.

Kontribusi dan Efek Berganda Sektor Migas

Sektor hulu migas merupakan salah satu tulang penggung penerimaan negara. Satuan Kerja  Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) memproyeksikan  penerimaan negara dari sektor migas mencapai US$ 15 miliar pada 2018. Angka itu lebih besar  daripada target yang dipatok pada APBN 2018 yaitu sebesar US$ 11,9 miliar. Sementara  realisasi penerimaan negara dari sektor migas sebesar US$ 12,7 miliar.

Jika mengacu nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat pada asumsi makro 2018 sebesar Rp 13.400, maka penerimaan migas 2018 ditaksir mencapai Rp 201 triliun. Jumlah yang sangat besar untuk menopang berbagai program seperti pembangunan infrastruktur, rumah subsidi, hingga pemberdayaan masyarakat perdesaan. Bahkan nilai tersebut setara dengan 8  kali anggaran Asian Games 2018 yang sebesar Rp 23,9 triliun. 

Secara makro, sektor migas juga berkontribusi besar bagi perekonomian nasional. Tahun 2016,  kontribusi industri hulu migas terhadap PDB mencapai US$ 23,7 miliar atau sekitar 3,3 persen.  Pertambangan migas merupakan 10 besar kontributor PDB nasional dari 49 jenis usaha. 

Maka, tidak mengherankan jika efek berganda (multiplier effect) dari industri migas sangatlah  besar. Berdasarkan studi yang dilakukan SKK Migas bersama Universitas Indonesia pada 2015 diketahui bahwa setiap Rp 1 miliar dana yang dibelanjakan di sektor hulu migas akan berdampak terhadap penciptaan lapangan kerja sebanyak 100 orang, dan peningkatan PDB sebesar Rp 700 Juta serta pendapatan rumah tangga sebesar Rp 200 Juta. 

Angka investasi hulu migas memang sangatlah besar. Lihat saja data 2016. Dengan realisasi investasi yang mencapai Rp 150,3 triliun, terdapat tambahan kesempatan kerja sebanyak 646.800 orang dan meningkatkan PDB sebesar Rp 61,8 triliun serta pendapatan rumah tangga sebesar Rp17,1 triliun.

Industri hulu migas telah menghidupi sejumlah industri pendukung seperti produsen baja, bahan kimia, pompa, mur dan baut, heat exchanger, pressure vessel, crane, hingga pipa. Komitmen tingkat komponen dalam negeri (TKDN) pada 2017 pun mencapai US$ 5,63 miliar  atau 60,54 persen dari total nilai pengadaan barang dan jasa.

Tidak hanya itu. Kegiatan hulu migas juga mendukung likuiditas sektor keuangan nasional. Pembayaran transaksi belanja barang dan jasa melalui perbankan nasional selama periode  2009-2017 mencapai US$ 66,01 miliar. SKK Migas pun memiliki kebijakan terkait penyimpanan dana Abandonment & Site Restoration (ASR) pada bank nasional. Akumulasi dana ASR yang  ditempatkan pada bank-bank tersebut terus meningkat dari US$ 167 juta saat pertama kali  ditempatkan tahun 2010, kini menjadi US$ 1,1 miliar pada 2017.

Melihat kondisi tersebut, tepat kiranya jika upaya menjaga keberlangsungan industri migas nasional harus menjadi perhatian seluruh pemangku kepentingan termasuk Pemerintah karena  hal itu berdampak positif bagi rakyat dan bangsa Indonesia. (*)

 

Sumber:  

  • Artikel “SKK Migas Proyeksi Penerimaan Hulu 2018 Capai USD 15 M, Lampaui Target APBN”  di merdeka.com (01/8/2018).
  • Artikel “Kuartal III-2018, Penerimaan Negara dari Hulu Migas Capai USD 11,76 Miliar” di  merdeka.com (23/10/2018).
  • Laporan Tahunan SKK Migas 2017. 
  • Laporan Berkelanjutan SKK Migas 2016.
  • Artikel “Potret Hulu Migas Indonesia: Titik Nadir Investasi?” di katadata.co.id (21/7/2017).
  • Artikel “Kuartal III 2018, Defisit Neraca Transaksi Berjalan Kembali Melebar” di kompas.com  (09/11/2018).
  • Infografik “Waspadai Defisit Transaksi Berjalan” di katadata.co.id (15/11/2018).