EOR, Salah Satu Penjaga Produksi Migas Nasional

EOR, Salah Satu Penjaga Produksi Migas Nasional
Disamping penemuan cadangan baru, teknologi EOR atau Enhanced Oil Recovery diyakini mampu membantu menjaga jumlah  produksi migas nasional.

Minyak dan gas bumi (migas) memainkan peran penting dalam perjalanan Indonesia. Geliat pembangunan yang dirasakan hingga saat ini salah satunya ditopang oleh penerimaan Negara dari sektor migas. Meski era keemasannya telah lewat, namun peran industry tidak bias dipandang sebelah mata. Diyakini bahwa kebutuhan energi akanterusmeningkat di masa mendatang.

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat, konsumsi bahan bakar minyak (BBM) nasional pada 2017 mencapai angka 1,3 juta barel per hari (BPH). Sementara dalam Rencana Umum Energi Nasional (RUEN) 2015-2050, kebutuhan BBM diprediksi mencapai 1,8 juta BPH pada 2025, atau meningkat sekitar 38,5 persen. Tren kenaikan diperkirakan terus berlanjut menjadi sekitar 3,7 juta BPH pada 2050.

Peningkatan tersebut tentunya harus diimbangi dengan kemampuan produksi lapangan-lapangan migas yang ada. Sehingga kilang-kilang di dalam negeri mempunyai pasokan yang mumpuni untuk memenuhi  konsumsi BBM. Hal ini sinergi dengan inisiatif untuk menekan impor BBM yang pada akhirnya juga dapat menghemat devisa negara. Berdasarkan catatan Kementerian ESDM, masih impor BBM pada 2017 masih berada pada angka sekitar 370 ribu BPH.

Oleh sebab itu, seluruh pemangku kepentingan di sektor migas sepakat diperlukan adanya upaya-upaya yang tepat untuk meningkatkan produksi migas nasional. Ada dua aktivitas yang ditentukan menurut RUEN, yaitu penemuan lapangan migas baru (eksplorasi) dan penggunaan teknologi EOR khususnya pada sumur-sumur produksi yang sudah ada.

Mengapa EOR dianggap dapat mengoptimalkan produksi dari sumur-sumur migas yang sudah ada?. Sekitar dua per tiga jumlah minyak di dunia diyakini tetap terperangkap dalam reservoir karena terlalu sulit untuk diekstraksi. Jumlah yang tertinggal bias jauh lebih banyak apabila minyaknya terlalu tebal.

Secara rata-rata, industri hanya bisa mengambil minyak bumi sekitar 35 persen dari reservoir yang ada. Sedangkan sisanya masih terjebak di dalam bebatuan. Ketika usia lapangan migas semakin tua, maka produksi pun semakin menurun. Untuk menjaga dan mendongkrak hasil produksi dari lapangan-lapangan tersebut, perusahaan-perusahaan migas biasanya menggunakan metode EOR.

Menurut Departemen Energi Amerika Serikat (AS), metode EOR dapat dilakukan dengan tiga cara, yakni dengan menyuntikkan uap, bahan kimia, atau gas melalui sumur injeksi sehingga mendorong minyak bumi keluar dari bebatuan. Minyak bumi yang keluar dan mengalir ke sumur-sumur akan lebih mudah diangkat ke permukaan.

Teknologi EOR di Indonesia

Sejak 1985, PT Chevron Pacific Indonesia telah menerapkan EOR dengan metode injeksi uap (steam flood) di Lapangan Duri yang berada pada wilayah kerja (WK) migas Rokan, Provinsi Riau, untuk mengangkat minyak berat (heavy oil) ke atas permukaan. Proyek ini merupakan salah satu proyek pengembangan injeksi uap terbesar di dunia. Alhasil, sejak teknologi diterapkan produksi minyak telah mencapai 2 miliar barel.

Langkah Chevron menerapkan EOR berlanjut pada Lapangan Minas yang masih berada dalam WK Rokan. Proyek yang dimulai 2012 ini diharapkan mampu menambah produksi minyak hingga 100 ribu BPH pada 2022. Lapangan Minas merupakan bagian dari 32 lapangan migas di Indonesia yang masuk rencana pilot project EOR pada RUEN.

Dengan memperhitungkan penerapan EOR, produksi minyak bumi pada 2025 menurut RUEN diperkirakan sebesar 568 ribu BPH dan secara berturut-turut akan meningkat menjadi 677 ribu BPH (2030), 809 ribu BPH (2035), dan 818 ribu BPH (2040). Namun, diperkirakan produksi akan kembali turun menjadi 770 ribu BPH pada 2045 dan 699 ribu BPH pada 2050.

Apabila tidak menerapkan teknologi EOR, maka produksi minyak yang dihasilkan tentu akan sangat kecil lagi. Menurut data Kementerian ESDM, tanpa EOR produksi minyak  pada  periode 2024-2025 diprediksi hanya mencapai 300 ribu BPH dan terus menurun hingga 200 ribu BPH pada 2032.

Tantangan

Meski dianggap sangat penting untuk menyokong produksi migas nasional, namun penerapan EOR bukanlah perkara yang mudah. PT Medco Energi E&P, misalnya telah menghentikan pilot project EOR pada 2014. Harga minyak dunia yang anjlok menjadi salah satu penyebabnya. Berdasarkan kalkulasi bisnis, pemakaian teknologi EOR baru dianggap ekonomis apabila harga minyak mentah berada di atas angka US$ 80 per barel.

Faktor-faktor lain yang menjadi bahan pertimbangan, di antaranya: waktu yang cukup panjang (di atas delapan tahun) untuk merasakan hasil dari penerapan teknologi EOR, karakteristik setiap lapangan yang berbeda-beda sehingga metode yang digunakan pun harus menyesuaikan kondisi yang ada, dan membutuhkan biaya yang relatif tinggi.

Dari sisi Pemerintah, diketahui bahwa Pemerintah  saat ini masih merumuskan aturan terkait penggunaan teknologi EOR ini. Salah satu poinnya, perihal risiko atas penerapan teknologi ini apabila hasilnya kurang memuaskan.

Terlepas dari itu semua, Pemerintah perlu terus mengupayakan agar penerapan teknologi EOR dapat tetap dilakukan oleh pelaku industry migas. Uji coba reservoir untuk mengetahui lapangan migas mana yang memungkinkan diterapkan EOR dan percepatan proses pengadaan barang untuk teknologi EOR seperti bahan kimia, merupakan dua hal strategis yang harus dilakukan, di luar kebijakan lainnya seperti pembebasan pajak. (*)

 

Sumber:

  • Artikel “Proyek EOR Chevron Tambah Produksi 100.000 BPH di 2022” di bisnis.com (11/11/2012)
  • Artikel “Memahami Cara EOR Bekerja” di migasreview.com (13/3/2013)
  • Artikel “Enhanced Oil Recovery” di humasskk migas.wordpress.com (25/2/2016)
  • Artikel “Medco E&P: Penerapan EOR akan Ekonomis Saat Harga Minyak USD 80 Barel” di metrotvnews.com (6/09/2016)
  • Artikel “Pemerintah akan Ikut Tanggung Biaya Teknologi Pengurasan Sumur Migas” di katadata.co.id (12/06/2017)
  • Artikel “Teknologi EOR Bukan Prioritas Pemerintah” di kontan.co.id (14/08/2017)
  • Artikel “Teknologi Steam flood EOR Dorong Peningkatan Produksi Lapangan Duri” di kontan.co.id (27/7/2018)
  • Artikel “Penuhi Kebutuhan Dalam Negeri Segini Jumlah Impor Minyak RI” di detik.com (9/09/2018)