Migas, Tulang Punggung Energi di Masa Depan

Migas, Tulang Punggung Energi di Masa Depan
Porsi energi dari migas masih berada pada angka di atas 50 persen.

Minyak dan gas bumi (migas) dipastikan masih menjadi tulang punggung energi nasional hingga 30 tahun ke depan. Sesuai Rencana Umum Energi Nasional (RUEN) seperti diatur  dalam Peraturan Presiden Nomor 22 Tahun 2017, target porsi energi dari migas pada 2050 sebesar 44 persen dari total energi nasional. Asumsi RUEN ini sejalan dengan World Energy  Outlook 2017 yang dirilis International Energy Agency (IEA). Disebutkan, migas masih akan  tetap menjadi energi utama di dunia dalam kurun waktu 20-30 tahun ke depan. Porsi energi  dari migas masih berada pada angka di atas 50 persen.

Secara volume, kebutuhan migas nasional juga akan terus meningkat. Proyeksi kebutuhan  energi primer pada 2015, seperti dirilis Dewan Energi Nasional, tercatat total kebutuhan  energi primer sebesar 166 juta ton setara minyak (MTOE). Dari angka tersebut, 46 persen dipasok oleh minyak bumi dan 23 persen gas bumi.

Sementara pada 2025, kebutuhan energi primer nasional diperkirakan mencapai 412 MTOE dengan komposisi pasokan masih didominasi oleh migas (25 persen minyak bumi dan 22  persen gas bumi). Begitu juga pada 2050. Kebutuhan energi primer nasional diprediksi  mencapai 1.030 MTOE dengan 20 persen dipasok dari minyak bumi dan 24 persen gas bumi. Singkatnya, pada 2050 nanti ternyata migas masih menjadi andalan untuk memenuhi kebutuhan energi nasional.

Kondisi di atas sangat ironis jika melihat tren produksi migas nasional. Lonjakan kebutuhan migas tidak dibarengi dengan peningkatan jumlah produksi nasional. Pada 2016, jumlah  produksi minyak bumi di Indonesia berada pada level rata-rata 831 ribu barel per hari  (BOPD), atau hanya sekitar 0,9 persen dari total produksi minyak dunia yang berada pada level 91,7 juta BOPD. Sedangkan produksi gas Indonesia pada tahun yang sama juga masih berada di level 8,2 miliar kaki kubik per hari (BSCFD), atau hanya sekitar 2,4 persen total  produksi gas dunia yang berada pada level 342,4 BSCFD.

Artinya, dengan tingkat produksi migas nasional sekarang dan tidak ada tambahan atau temuan cadangan baru, maka diyakini cadangan minyak bumi Indonesia akan habis dalam  jangka waktu 11 tahun, dan gas bumi dalam jangka waktu 40 tahun. Kondisi itu diperparah dengan adanya 90 persen produksi minyak bumi yang berasal dari lapangan-lapangan tua (mature field), karena diproduksi sebelum tahun 1970-an.

Bahkan ada lapangan tua yang memiliki laju penurunan produksi hingga 24 persen setiap  tahunnya. Kendati Pemerintah telah berusaha menahan laju penurunan produksi per tahun di bawah angka 3 persen, namun saat ini laju penurunan alami produksi minyak secara nasional berada pada level 20 persen per tahun.

Ada banyak upaya yang dilakukan untuk menahan laju penurunan seperti meningkatkan pemboran, mempercepat penyelesaian proyek fasilitas produksi di lapangan-lapangan baru,  kerja ulang dan perawatan sumur, optimalisasi pemeliharaan fasilitas produksi, serta aplikasi penerapan teknologi pengurasan sumur (enhanced oil recovery/EOR).

Lalu, bagaimana dengan cadangan migas yang masih dikandung bumi? Data DEN menunjukan bahwa cadangan terbukti minyak Indonesia termasuk kondensat saat ini  diperkirakan hanya sebanyak 3,6 miliar barel, atau 0,2 persen dari total cadangan minyak  dunia yang berada pada angka 1.684 miliar barel. Sedangkan cadangan terbukti gas Indonesia ada sebesar 103 triliun standar kaki kubik (TSCF), atau sekitar 1,6 persen dari total cadangan gas dunia sebesar 6.559 TSCF.

Mendorong Investasi

Untuk meningkatkan produksi migas demi menjawab kebutuhan energi di masa mendatang, Moody's Investors Service menyarankan Indonesia melakukan investasi migas sebesar US$  150 miliar atau setara Rp 2.200 triliun hingga 2025. Investasi sebesar itu diperlukan untuk  menggenjot kegiatan eksplorasi dan produksi migas, pembangunan infrastruktur gas, dan  juga peningkatan kapasitas kilang demi pemenuhan kebutuhan bahan bakar minyak.

Asisten Wakil Presiden dan Analis Moody’s Investors Service, Rachel Chua, mengatakan  bahwa porsi investasi terbesar harus dialokasikan untuk hulu migas. “Porsinya mencapai 80 persen atau US$ 120 miliar, sementara 20 persen sisanya atau US$ 30 miliar dapat  diarahkan untuk memperkuat industri hilirnya,” katanya.

Rachel mengingatkan, tanpa investasi tersebut maka produksi migas Indonesia akan melorot hingga 20 persen pada 2022. Tidak mustahil Indonesia akan berubah menjadi negara importir gas pada 2022 karena pertumbuhan permintaan domestik yang tak diiringi dengan pertumbuhan produksinya.

Untuk menarik investasi migas masuk ke Indonesia, Pemerintah harus melakukan upaya lebih keras agar investor berminat melakukan eksplorasi. Pemerintah juga dapat membantu investor dengan mempermudah perizinan yang diperlukan dalam rangka eksplorasi dan  produksi migas. Jika produksi migas meningkat, diyakini ketergantungan impor migas pun akan semakin berkurang. (*)

Sumber: 

  • Artikel Katadata.co.id “Impor Minyak Berpotensi Membengkak, Target RUEN  Terancam”, (12/7/2017).
  • Artikel Merdeka.com “Presiden IPA: Minyak dan Gas Bumi Masih Jadi Tulang  Punggung Energi 30 Tahun ke Depan”, (2/5/2018).
  • Artikel Bisnis.com “Defisit Neraca Perdagangan Migas Terjadi Sejak 2011”,  (1/10/2018).
  • Artikel Cnbcindonesia.com “RI Butuh Investasi Rp 2200 T Untuk Selamatkan Sektor  Migas”, (1/10/2018).
  • Laporan SKK Migas 2016 “Laporan Tahunan SKK Migas 2016”, (2016).
  • Laporan Migasreview.com “Mengenal RUEN Lebih Dekat”, (6/1/2017).
  • Laporan DEN “Laporan Dewan Energi Nasional 2016”, (2016).