Perbaikan Investasi Migas Dukung Neraca Nasional

Perbaikan Investasi Migas Dukung Neraca Nasional
Industri hulu migas yang sehat akan mendukung neraca perdagangan nasional.

Tingginya impor minyak dan gas bumi (migas) diyakini menjadi salah satu faktor penyebab  terjadinya defisit neraca perdagangan nasional. Pada periode Januari hingga November 2018 tercatat defisit neraca perdagangan Indonesia mencapai sekitar USD 7,52 miliar atau sekitar Rp 109 triliun.

Secara khusus, tingginya impor migas dalam bentuk bahan bakar minyak (BBM) dibandingkan  dengan ekspor juga telah menyebabkan terjadinya defisit neraca migas nasional. Pada periode  yang sama, Januari-November 2018, tercatat defisit neraca migas menembus angka USD 10  miliar. Jika merujuk pada data dari Badan Pusat Statistik, nilai ekspor migas Indonesia hanya  sebesar USD 15,66 miliar dan nilai impor migas mencapai USD 27,81 miliar.

Jika defisit neraca perdagangan tetap berlangsung, maka dikhawatirkan kondisi itu akan  semakin membebani neraca transaksi berjalan (current account) Indonesia. Hingga semester I-2018, neraca transaksi berjalan Indonesia tercatat sudah defisit sebesar USD 13,75 miliar. Tidak hanya membebani neraca transaksi berjalan, tetapi defisit neraca perdagangan juga turut menjadi katalis negatif bagi Rupiah.

Untuk itu, perlu dilakukan serangkai upaya demi menahan laju defisit neraca perdagangan. Dukungan yang aktif bagi industri hulu migas dan industri penunjangnya diyakini dapat  memberikan dukungan yang signifikan bagi neraca perdaganan Indonesia. Dukungan ini sangat signifikan melihat kondisi hulu migas nasional yang sedang mengalami penurunan, khususnya  dari sisi jumlah produksi migas.

Sejatinya, Pemerintah Indonesia telah memahami penurunan yang terjadi pada industri migas  nasional seperti saat ini. Bahkan, Pemerintah melalui Peraturan Presiden No. 22 Tahun 2017  juga telah memaparkan Rencana Umum Energi Nasional demi memenuhi kebutuhan energi dalam negeri hingga 2050. Sayangnya rencana kegiatan seperti dipaparkan dalam dokumen  masih perlu dikawal dalam implementasinya.

Perbaikan iklim investasi migas menjadi hal yang mendesak untuk dilakukan demi menopang  terjadinya kegiatan penemuan cadangan baru (eksplorasi) dan Enhanced Oil Recovery (EOR).  Selain itu, pemanfaatan produksi migas nasional bagi kebutuhan dalam negeri diyakini juga  mampu berdampak pada pengurangan angka impor BBM.

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) pada 10 September 2018 telah  menerbitkan Peraturan Menteri ESDM No. 42/2018 tentang prioritas pemanfaatan minyak  bumi untuk pemenuhan kebutuhan dalam negeri. Aturan tersebut mewajibkan pada Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) yang memproduksi migas untuk menawarkan produksi mereka  kepada PT Pertamina (Persero), atau badan usaha lain pemegang izin usaha pengolahan minyak  bumi.

Di lain pihak, PT Pertamina (Persero) dan badan usaha tersebut juga wajib mengutamakan  pasokan migas yang merupakan produksi dalam negeri. Keduanya wajib mencari pasokan  minyak bumi yang berasal dari KKKS dalam negeri, sebelum merencanakan impor untuk  memenuhi kebutuhan pengolahan mereka.

Untuk harga jual, Permen ESDM tersebut mengatur harga jual beli minyak ditetapkan  berdasarkan hasil negosiasi menggunakan skema business to business (B2B) agar memberikan  kepastian bagi kedua belah pihak yang bertransaksi sehingga tercipta kondisi yang saling  menguntungkan.

Sebelum Permen ESDM ini diterbitkan, KKKS diperbolehkan menjual produksi migas bagian  mereka baik di dalam maupun luar negeri. Dari total produksi minyak nasional sebesar 800 ribu  barel per hari (BPH), ada sekitar 200-300 ribu BPH yang merupakan bagian milik KKKS dan diekspor keluar Indonesia. Apabila bagian tersebut dibeli oleh PT Pertamina (Persero) atau  badan usaha lain yang bertugas sebagai pengolahan minyak bumi dan digunakan untuk  memenuhi kebutuhan energi dalam negeri, menurut Pemerintah, hal tersebut dapat menjaga  cadangan devisa negara serta sekaligus menghemat biaya-biaya yang harus dikeluarkan  Pemerintah, seperti biaya transportasi.

Direktur Pemasaran Retail PT Pertamina (Persero), Mas'ud Khamid, mengatakan bahwa saat ini  sudah ada sejumlah kesepakatan pembelian minyak mentah dari para KKKS untuk dialirkan ke  kilang-kilang milik Pertamina. Salah satunya adalah minyak mentah hasil produksi ExxonMobil  dari Lapangan Banyu Urip dan minyak mentah hasil produksi PT Energi Mega Persada.

Gairahkan Investasi 

Optimalisasi pemenuhan kebutuhan energi dalam negeri tentunya perlu didukung oleh iklim  investasi yang baik. Dengan begitu tingkat produksi migas pun dapat terjaga. Secara teknis, produksi minyak nasional membutuhkan peningkatan rasio pengembalian cadangan (reserve  return ratio/RRR) dari kisaran 60 persen menjadi 100 persen. Artinya, setiap satu cadangan  migas yang berhasil diproduksi akan digantikan dengan cadangan migas lain yang baru ditemukan.

Sementara untuk gas bumi, upaya meningkatkan produksi dapat dilakukan dengan cara  meningkatkan kegiatan eksplorasi, mempercepat jalannya proyek gas bumi, dan mengendalikan impor liquified petroleum gas (LPG).

Hal-hal di atas dapat terjadi jika kegiatan eksplorasi dan produksi migas nasional kembali  menggeliat. Pembenahan kebijakan di industri migas, terutama sektor hulu migas, sangat  mendesak dilakukan. Tidak saja pada lingkup Kementerian EDSM, pembenahan kebijakan juga perlu melibatkan Kementerian/Lembaga lain yang terkait, seperti Kementerian Keuangan,  Kementerian Kehutanan dan Lingkungan Hidup, Kementerian Dalam Negeri, Kementerian  Perdagangan, Kementerian Perindustrian, dan lainnya. Aturan pelaksanaan yang detil dan saling menunjang satu dengan yang lain diharapkan mampu meningkatkan keekonomian proyek  migas sehingga pada akhirnya memberikan gairah investasi hulu migas.

Direktur Eksekutif ReforMiner Institute, Komaidi Notonegoro, menyampaikan bahwa investasi  hulu migas dapat kembali bergairah jika Pemerintah bersama seluruh pemangku kepentingan  melakukan pembenahan mata rantai birokrasi, dimulai dari tahap eksplorasi, produksi,  transportasi, hingga distribusi kepada pengguna akhir. (*)

Sumber: 

  • Artikel Kompas.com “Impor Migas Sumbang Penyebab Terbesar Defisit Neraca  Perdagangan”, (17/9/2018).
  • Artikel Kontan.co.id “Peran Hulu Migas Sangat Diperlukan Mendongkrak Investasi di  Indonesia”, (4/4/2018).
  • Artikel Dunia-energi.com “Regulasi Terbit Kontraktor Migas Wajib Prioritaskan  Penjualan Minyak ke Pertamina”, (10/9/2018).
  • Artikel Bisnis.com “Strategi Menekan Impor Sektor Energi”, (5/9/2018).
  • Databoks Katadata.co.id “Hingga 2018 Defisit Neraca Perdagangan Indonesia Terdalam  Sepanjang Sejarah”, (18/12/20180.
  • Artikel Antaranews.com “Ini Lima Langkah Strategis Sektor Energi Tingkatkan Devisa  Negara”, (15/8/2018).
  • Artikel Beritasatu.com “Menahan Defisit Laju Neraca Perdagangan”, (18/8/2018).